SEBUAH AMANAT
Karya : Puguh Ari S.
Karya : Puguh Ari S.
Sinar
cerah terpancar dari sang mentari, pertanda pagi telah tiba.
“Bud..Budi..bangun” terdengar suara ibu yang membangunkan Budi.
“Iya bu bentar..masih ngantuk ini..” sahut Budi.
“Ayo cepat bangun Bud..!” paksa ibu sambil membuka jendela kamar Budi.
“Bukannya pagi ini kamu ada les di sekolah..??” Tanya
ibu
“Oh iya bu..maaf aku lupa.” Sambil bergegas bangun dan lari ke
kamar mandi.
“Bud..cepat ya ibu tunggu sama ayah buat sarapan bersama..!!” ujar
ibu di depan pintu kamar mandi.
“Iya bu..” jawab Budi.
Setelah
Budi mandi dan telah siap-siap dia melihat jam sudah menunjukan pukul 06.30.
Budi pun berlari ke ruang makan dan berpamitan pada ibu dan ayah.
“Yah..bu.. Aku berangkat dulu ya..” izin Budi sambil meninggalkan
ruang makan.
“Nggak sarapan dulu ta..??” Tanya ibu.
“Nggak usah, takut telat nanti..” jawab Budi
“Ayah antar ya.. biar cepat.?” Tanya ayah.
“Nggak usah yah, aku naik angkot saja.!” Jawab Budi.
“Ya sudah hati-hati, nanti kalau sudah pulang langsung pulang
jangan ikut teman-teman geng motor kamu lagi..!!” pesan ibu.
“Ah ibu ini, iya iya..!” bentak Budi.
Budi
pun berangkat sekolah. Setibanya di sekolah ternyata teman-teman geng motornya
sudah menjemput Budi di depan gerbang sekolah, dan Budi bukannya les tapi malah
ikut teman-temannya ke bengkel tempat mereka berkumpul dan menyiapkan motor
untuk balapan nanti malam.
“Bud.. nanti malam kamu bias ikut kita balapan kan.??” Tanya salah
satu teman Budi.
“Ikut donk.. pastinya..!!” ujar Budi.
“Tapi gimana dengan orang tua kamu..??” Tanya temannya lagi.
“Ah cuek aja..!” jawab Budi.
Budi
tak menghiraukan ucapan dan pesan ibunya tadi pagi. Pukul 22.00 Budi menemani
teman-temannya untuk balapan tanpa pamit pada orang tuanya. Sedangkan dirumah
ayah dan ibunya tidak bias tidur menunggu putra kesayangannya dating.
“Yah.. Budi sampai jam segini kok belum pulang ya.??” Tanya ibunya
ibu dengan perasaan kawatir terhadap Budi.
“Nggak tau bu.. tapi Budi kemana ya..??” Gak biasanya Budi pulang
selarut ini..” kekawatiran orang tua Budi pun kian memuncak.
Karena
tadi Budi dan teman-temannya menang balapan, mereka merayakan kemenangannya
dengan minum minuman keras. Semua pun mabuk berat malam itu. Pukul 00.00 Budi
pulang diantar salah seorang temannya.
“Teman-teman aku pulang dulu ya..??” teriak Budi pada
teman-temannya.
“Bud.. ayo aku antar pulang..?” pinta salah seorang temannya.
“Ya udah ayo..” jawab Budi.
Saat
dijalan Budi dan temannya yang masih mabuk berat itu kehilangan kendali, hingga
motor yang mereka berdua tumpangi menabrak truk dari arah yang berlawanan.
Mereka berdua pun terjatuh.
“Selamat malam..” Polisi mendatangi rumah Budi yang pintunya masih
terbuka menunggu kedatangan Budi.
“Selamat malam, ada apa ya.. ada yang bias saya bantu.??” Tanya
ayah Budi.
Ternyata
polisi itu datang membawakn kabar tentang kecelakaan Budi. Ayah dan ibu Budi
pun terkejut dan langsung pergi ke rumah sakit tempat Budi dirawat.
“Budi..nak.??’ teriak ibu Budi sampil memegang tangan Budi.
“Maafin aku bu..yah.. Budi gak dengerin amanat ayah dan ibu tadi
pagi..” Budi berkata sambil memegang tangan orang tuanya.
“Iya nak.. ibu tau kamu hanya ingin bebas tanpa beban dari ibu dan
ayah.” Kata ibu dengan menangis
“Tapi cara kamu itu salah dan kamu salah memilih teman..” tambah
ayah.
“Iya Budi minta maaf, Budi selalu membuat ayah dan ibu kesusahan.”
Budi meminta maaf kepada orang tuanya.
“Nggak nak, ayah dan ibu tidak pernah merasa kamu susahkan kok..”
kata ayah.
Luka
yang dialami Budi cukup parah, namun tidak separah temannya. Tapi Budi harus
menerima takdir yang dia alami, kaki kirinya lumpuh karena tabrakan itu. Dan
Budi sekarang sadar sebuah nasihat dan amanat dari orang tuanya itu sangatlah
berarti dan berguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar